Kamis, 18 November 2010

makalah softskill etika profesi akuntansi

ETIKA BISNIS dan PENERAPANNYA


Nama Kelompok :

Achmad Rizkiansyah

Bramantyo Anugrah Wicaksono

Efa Melia Putri Lingga


4 EB 05




KATA PENGANTAR

Tak pernah lelah penulis ucapkan syukur tak terhingga kepada Sang Mahadaya Ilmu karena dapat menyelesaikan makalah untuk mata kuliah Etika Profesi Akuntansi dengan judul Etika Bisnis dan Penerapannya ini.

Materi yang akan dibahas dalam makalah ini adalah profesionalisme suatu profesi yang harus dimiliki oleh setiap anggota profesi dengan menunjukkan personalitas seorang profesionalisme yang diwujudkan dalam sikap profesional dan tindakan etisnya.

Selain sebagai pedoman dalam kegiatan menulis akademik dan membaca kritis, makalah ini juga dapat memberi arah kepada mahasiswa dalam mengembangkan kepribadian dan belajar memahami etika dalam kehidupan sehari-hari serta dapat belajar etika bersinis dengan baik sebelum akhirnya mahasiswa tersebut ingin memasuki dunia bisnis di kemudian hari. Makalah ini disusun secara sederhana untuk dapat memberikan bimbingan bagi para pembaca yang ingin mengetahui penerapan etika yang baik, khususnya mahasiswa Gunadarma.

Makalah ini sangat jauh dari sempurna, namun kiranya dapat membantu para pembaca yang tengah mempelajari atau pun mengembangkan kepribadiannya dalam untuk dapat beretika dalam kegiatan berbisnis. Segala saran dan kritik yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Depok, November 2010


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Profesi akuntan di Indonesia sekarang ini menghadapi tantangan yang semakin berat. Tantangan tersebut adalah berikut ini. Pertama, WTO/GATT/GATS, tidak hanya merundingkan masalah perdagangan komoditi riil, namun juga sektor jasa. Kedua, akan diberlakukannya perdagangan bebas diantara negara-negara di kawasan Asia-Pasifik dalam rangka kerjasama ekonomi APEC pada tahun 2010 bagi negara maju dan pada tahun 2020 bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketiga, diberlakukannya perdagangan bebas diantara negara-negara di kawasan ASEAN, yaitu AFTA (Ekayani dan Putra, 2003).

Disamping itu, kemajuan ekonomi mendorong munculnya pelaku bisnis baru sehingga menimbulkan persaingan bisnis yang cukup tajam. Semua usaha bisnis tersebut berusaha untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun terkadang untuk mencapai tujuan itu, segala upaya dan tindakan dilakukan walaupun pelaku bisnis harus melakukan tindakan-tindakan yang mengabaikan berbagai dimensi moral dan etika bisnis itu sendiri, termasuk profesi akuntansi. Di dalam bisnis tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan segala cara. Bahkan tindakan yang berbau kriminal pun ditempuh demi pencapaian suatu tujuan.

Perkembangan pesat teknologi setelah perang dunia kedua memacu dunia bisnis di negara - negara kapitalis menjadi semakin dinamis, tetapi sayangnya kurang disertai dengan pemikiran dan kesadaran moral para pelakunya, sehingga menimbulkan skandal - skandal bisnis yang merugikan masyarakat, seperti hancurnya enron dan Lehman Brothers. Oleh karena itu, sejak tahun 1970 - an, etika dalam dunia bisnis menjadi semakin sering dibicarakan dan dituntut realisasinya. Setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas GCG (Good Corporate Governance) diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan jika tidak ingin mengalami hal sama dengan kasus Enron maupun Lehman Brothers. Menurut hasil penelitian SWA (2005), PT Astra Internasional Tbk (AI) merupakan salah satu perusahaan publik yang telah menerapkan tata kelola perusahaan. Astra Internasional berhasil bertahan setelah menerapkan tata kelola perusahaan sejak tahun 1987 (21 tahun).

Untuk mengantisipasi hal itu, maka profesionalisme suatu profesi harus dimiliki oleh setiap anggota profesi, yaitu berkeahlian, berpengetahuan, dan berkarakter. Karakter menunjukkan personalitas seorang profesionalisme yang diwujudkan dalam sikap profesional dan tindakan etisnya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka kami penulis tertarik untuk membuat makalah mengenai Etika Bisnis dan Penerapannya.

B. Manfaat

Dengan adanya penulisan makalah ini, penulis berharap dapat memberikan masukan bagi pengembangan ilmu ekonomi terutama mengenai Etika Profesi Akuntansi. Selain itu dapat memberikan masukan bagi perusahaan mengenai Etika Bisnis dan penerapannya. Serta bagi pihak lain diharapkan dapat menjadi sumber informasi untuk memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai Etika Bisnis dan Penerapannya.

Selain itu makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman nilai-nilai, kesadaran etika, kode etik profesi akuntan dan ethical governance dalam bisnis dan profesi akuntan. Dalam rangka mempersiapkan akuntan profesional beretika tinggi, makalah ini juga membahas isu utama dalam masalah etika bisnis dan perkembangan etika.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika

Etika berasal dari bahasa latin, Etica yang berarti falsafah moral dan merupakan pedoman cara hidup yang benar dilihat dari sudut pandang budaya, susila dan agama. Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu Ethos yang berarti kebiasaan, watak. Etika memiliki banyak makna antara lain :

1. Semangat khas kelompok tertentu, misalnya ethos kerja, kode etik kelompok profesi.

2. Norma-norma yang dianut oleh kelompok, golongan masyarakat tertentu mengenai perbuatan yang baik dan benar.

3. Studi tentang prinsip-prinsip perilaku yang baik dan benar sebagai falsafat moral. Etika sebagai refleksi kritis dan rasional tentang norma-norma yang terwujud dalam perilaku hidup manusia.

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang perlu kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan.

B. Pengertian Bisnis

Beberapa pengertian bisnis adalah sebagai berikut :

1. Bisnis dalam arti luas adalah istilah umum yang menggambarkan semua aktifitas dan institusi yang memproduksi barang& jasa dalam kehidupan sehari-hari.

2. Bisnis sebagai suatu system yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan masyarakat (bussinessis then simply a system that produces goods and service to satisfy the needs of our society) [Huat, T Chwee,1990]

3. Bisnis merupakan suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan [Griffin & Ebert]

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu dan sekelompok orang (organisasi) yang menciptakan nilai (create value) melalui penciptaan barang dan jasa (create of good and service) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan melalui transaksi.

C. Pengertian Etika Bisnis

Berikut ini adalah beberapa pengertian Etika Bisnis :

1. Etika Bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan yang salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis.

2. Etika bisnis adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan manajer dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan dan mengoperasikan bisnis yang etik.

Berikut perkembangan etika bisnis menurut Bertens :

1. Situasi Dahulu

Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur.

2. Masa Peralihan: tahun 1960-an

Ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social responsibility.

3. Etika Bisnis Lahir di AS: tahun 1970-an

Sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS.

4. Etika Bisnis Meluas ke Eropa: tahun 1980-an

Di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European Business Ethics Network(EBEN).

5. Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: tahun 1990-an

Tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh dunia. Telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo.

Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Pengendalian diri,

2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility),

3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi,

4. Menciptakan persaingan yang sehat,

5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”,

6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi),

7. Mampu menyatakan yang benar itu benar,

8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah,

9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama,

10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati.

11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hokum positif yang berupa peraturan perundang-undangan.

Etika Bisnis diperlukan agar para pelaku bisnis dituntut professional, karena adanya persaingan yang semakin tinggi, kepuasan konsumen yang menjadi faktor utama, agar perusahaan dapat dipercaya dalam jangka panjang dan mencegah jangan sampai dikenakan sanksi-sanksi pemerintah yang pada akhirnya mengambil keputusan.

D. Penerapan Etika Bisnis melalui Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance

Etika Bisnis berperan sangat besar karena fungsinya yang jika dapat diterapkan secara konsisten dapat membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan mempunyai daya saing (Competitive Advantages) yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi pula.

Menurut salah satu ahli pada dasarnya praktik etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena:

1. Dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik internal perusahaan maupun eksternal.

2. Dapat meningkatkan motivasi para pekerja.

3. Melindungi prinsip kebebasan berniaga.

4. Meningkatkan keunggulan bersaing.

Berangkat dari besarnya peran suatu etika dalam melakukan kegiatan bisnis, maka perusahaan sudah selayaknya menerapkan suatu prinsip pengelolaan perusahaan yang baik dan sehat. Dalam upaya ini penerapan prinsip Good Corporate Governance dapat digunakan sebagai salah satu alatnya. Banyak perusahaan yang umurnya puluhan tahun bahkan ratusan tahun memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, dengan kesejahteraan karyawan yang baik karena melaksanakan etika bisnis dan Good Corporate Governance. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan etika bisnis melalui penerapan Good Corporate Governance menjadi salah satu sustainable competitive advantage bagi perusahaan. Etika bisnis sendiri pada akhirnya merupakan bagian terintegrasi dari nilai-nilai Good Corporate Governance.

Malaysian Finance Committee on Corporate Governance memberikan definisi yang lebih luas mengenai konsep Good Corporate Governance. Good Corporate Governance merupakan suatu proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis serta akuntabilitas korporasi dengan tujuan untuk meningkatkan nilai saham dalam jangka panjang serta memperhatikan kepentingan pihak-pihak lain yang terkait dengan perusahaan (stakeholder).

Menurut Tjager Good Corporate Governance sering disebut sebagai sebuah pola hubungan, system dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai tambah secara berkesinambungan dalam jangka panjang bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.

Sebagai sebuah proses, system, struktur dan aturan yang memberikan suatu nilai tambahbagi perusahaan, Good Corporate Governance memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Fairness (Keadilan)

Keadilan adalah kesetaraan perlakuan dari perusahaan terhadap pihak-pihak yang berkepentingansesuai dengan criteria dan proporsi yang seharusnya. Dalam hal ini yang ditekankan agar pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan terlindungi dari kecurangan serta penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh orang dalam. Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan membuat peraturan korporasi terhadap konflik kepentingan minoritas, membuat pedoman perilaku perusahaan dan atau kebijakan-kebijakan yang melindungi korporasi terhadap konflik kepentingan, menetapkan peran dan tanggung jawab dewan komisaris, direksi, dan komite termasuk system remunerasi, menyajikan informasi secara wajar.

2. Transparency (Keterbukaan)

Transparansi adalah keterbukaan dalam melaksanakan suatu proses kegiatan perusahaan. pengungkapan informasi kinerja perusahaan baik ketepatan waktu maupun akurasinya (keterbukaan dalam proses, pengambilan keputusan, pengawasan, keadilan, kualitas, standarisasi, efisiensi waktu dan biaya). Dengan transparansi, pihak-pihak yang terkait akan dapat melihat dan memahami bagaimana suatu perusahaan dikelola. Namun hal tersebut tidak berarti masalah-masalah yang strategis harus dipublikasikan, sehingga akan mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan. Hak-hak para pemegang saham, yang harus diberi informasi dengan benar dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan, dapat ikut berperan serta dalam pengambilan keputusan mengenai perubahan-perubahan yang mendasar atas perusahaandan turu memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan.

3. Accountability (Akuntabilitas)

Akuntabilitas adalah pertanggungjawaban atas pelaksanaan fungsi dan tugas-tugas sesuai dengan wewenang yang dimiliki oleh seluruh organ perusahaan termasuk pemegang saham. Akuntabilitas ini berkaitan erat dengan perencanaan yang telah disepakati bersama, dimana dalam pelaksanaan dari kegiatan perusahaan harus sesuai dengan perencanaan dan tujuan perusahaan. Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan menyiapkan laporan keuangan pada waktu yang tepat, mengembangkan komite audit dan resiko untuk mendukung fungsi pengawasan oleh dewan komisaris, mengembangkan dan merumuskan kembali peran dan fungsi internal audit sebagai mitra bisnis strategic berdasarkan best practice bukan sekedar audit.

4. Responsibility (Pertanggungjawaban)

Pertanggungjawaban adalah kesesuaian di dalam pegelolaan perusahaan terhadap peraturan perundangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Prinsip ini diwujudkan dengan kesadaran bahwa tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang, menyadari akan adanya tanggung jawab social, menghindari penyalahgunaan kekuasaan, menjadi professional dan menjunjung citra, memelihara lingkungan bisnis yang sehat.

5. Disclosure (Keterbukaan dalam informasi)

Disclosure adalah keterbukaan dalam mengungkapkan informasi yang bersifat material dan relevan mengenai perusahaan harus dapat memberikan informasi atau laporan yang akurat dan tepat waktu mengenai kinerja perusahaan. hal tersebut terutama untuk perusahaan yang sudah go public, dimana pemegang saham sangat berkepentingan dengan informasi kinerja perusahaan tersebut berada.

6. Independency (Kemandirian)

Kemandirian adalah suatu keadaan dimana perusahaan bebas dari pengaruh atau tekanan pihak lain yang tidak sesuai dengan mekanisme korporasi.

Untuk membuat Good Corporate Governance dapat terlaksana sebagaimana mestinya, menurut Keasey dan Wright dibutuhkan lima elemen yang saling berpadu, yaitu :

1. Tersedianya landasan hukum atau jaminan hukum

2. Ditegakkannya akuntabilitas

3. Adanya fungsi pengawasan atas kinerja kompensasi dan system pengangkatan direksi

4. Adanya Direksi sebagai eksekutif atau penyelenggara perusahaan

5. Adanya manajemen sebagai pelaksana kegiatan operasional perusahaan.

Disadari atau tidak, penerapan etika bisnis melalui prinsip-prinsip Good Corporate Governance memiliki peran yang besar. Etika bisnis bukan lagi merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh pelaku bisnis tetapi menjadi suatu kebutuhan yang harus terpenuhi. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance mencerminkan etika bisnis yang dapat memenuhi keinginan seluruh stakeholdernya. Etika bisnis yang baik dan sehat menjadi kunci bagi suatu perusahaan untuk membuatnya berdiri kokoh dan tahan terhadap segala macam serangan ketidakstabilan ekonomi.

E. Penerapan Etika Bisnis yang Positif

Berikut ini adalah sepuluh prinsip di dalam menerapkan etika bisnis yang positif :

1. Etika Bisnis itu dibangun berdasarkan etika pribadi. Tidak ada perbedaan yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi. Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran.

2. Etika Bisnis berdasarkan pada fairness. Apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dengan jujur? Apakah setiap konsumen telah diperlakukan dengan adil? Apakah setiap karyawan diberi kesempatan yang sama? Jika ya, maka etika bisnis telah diterapkan.

3. Etika Bisnis membutuhkan integritas. Dimana integritas merujuk kepada keutuhan pribadi, kepercayaan dan konsistensi. Bisnis yang etis memperlakukan orang dengan hormat, jujur dan berintegritas. Mereka menepati janji dan komitmen.

4. Etika Bisnis membutuhkan Kejujuran. Bukan jamannya lagi perusahaan untuk mengelabui pihak lain dan menyembunyikan cacat produk. Jaman sekarang adalah era kejujuran. Pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya.

5. Etika Bisnis harus dapat dipercayai. Jika perusahaan Anda terbilang baru, sedang tergoncang atau mengalami kerugian, maka secara etis Anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stakeholder Anda.

6. Etika Bisnis membutuhkan perencanaan bisnis. Sebuah perusahaan yang beretika dibangun di atas realist sekarang, visi atas masa depan dan perannya di dalam lingkungan. Etika bisnis tidak hidup di dalam ruang hampa. Semakin jelas rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan, stabilitas, keuntungan dan pelayanan, maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis.

7. Etika Bisnis diterapkan secara internal dan eksternal. Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Etika juga diterpkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan, buruh, pemasok, pemodal, dll. Singkatnya, ruang lingkup etika bisnis itu universal.

8. Etika Bisnis membutuhkan keuntungan. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki system kendali internal dan bertumbuh. Etika adalah berkenaan dengan bagaimana kita hidup pada saat ini dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Bisnis yang tidak mempunyai rencana untuk menghasilkan keuntungan bukanlah perusahaan yang beretika.

9. Etika Bisnis berdasarkan nilai. Perusahaan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis. Rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Etika menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal. Meski begitu, perumusannya harus jelas dan dapat dilaksanakan dalam pekerjaan sehari-hari.

10. Etika Bisnis dimulai dari pimpinan. Ada pepatah, “Pembusukan ikan dimulai dari kepalanya”. Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga. Perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anak buahnya.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Etika Bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan yang salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis. Etika bisnis juga menjelaskan standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan manajer dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan dan mengoperasikan bisnis yang etik.

Disadari atau tidak, penerapan etika bisnis melalui prinsip-prinsip Good Corporate Governance memiliki peran yang besar. Etika bisnis bukan lagi merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh pelaku bisnis tetapi menjadi suatu kebutuhan yang harus terpenuhi. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance mencerminkan etika bisnis yang dapat memenuhi keinginan seluruh stakeholdernya. Etika bisnis yang baik dan sehat menjadi kunci bagi suatu perusahaan untuk membuatnya berdiri kokoh dan tahan terhadap segala macam serangan ketidakstabilan ekonomi.

Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain adalah:

1. Pengendalian diri,

2. Pengembangan tanggung jawab social (social responsibility),

3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi,

4. Menciptakan persaingan yang sehat,

5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”,

6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi, dan Komisi),

7. Mampu menyatakan yang benar itu benar,

8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha ke bawah,

9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama,

10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati.

B. Saran

Sebaiknya Perusahaan memperhatikan hal-hal yang akan membuat perusahaan tersebut lebih berkembang dan bertahan lama, seperti yang telah disebutkan di atas. Kemudian perusahaan juga bisa menggunakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance mengenai penerapan Etika Bisnis atau sepuluh prinsip di dalam menerapkan etika bisnis yang positif. Pada dasarnya kedua prinsip ini sama-sama menuntun para pekerja yang ada di dalam perusahaan untuk beretika bisnis yang baik dan sehat. Karena hal tersebut menjadi kunci bagi suatu perusahaan untuk membuatnya berdiri kokoh dan tahan terhadap segala macam serangan ketidakstabilan ekonomi.


DAFTAR PUSTAKA

Internet.Dalam http://andyhariman.blogspot.com/2010/01/pengertian-etika-bisnis.html

Internet.Dalam http://azthreenancy.blogspot.com/2009/10/pengertian-etika-bisnis.html

Internet.Dalam http://elibrary.mb.ipb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=mbipb-12312421421421412-italestari-778

Internet.Dalamhttp://galih-chess.blogspot.com/2010/01/contoh-bisnis-yang-kurang-beretika.html

Internet.Dalam http://galih-chess.blogspot.com/2010/01/contoh-penerapan-etika-bisnis.html

Senin, 19 April 2010

RESUME TULISAN AKUNTANSI PART.2

PROSES KONFERGENSI
IFRS 2012

Oleh : Handoko Tomo

Banyak orang meragukan keseriusan IAI, apakah seluruh PSAK dapat selesai dikonfergensikan secara penuh dengan IFRS dan diterapkan pertama kali 1 Januari 2012 ?
Jika menelusuri lebih dalam lagi, buku IFRS yang diterbitkan oleh International Accounting Standards Board yang berisi 2000-an halaman dan ternyata sekitar 600 halaman diantaranya membahas IAS 32 dan 39 (PSAK 50 dan 55) tidaklah sederhana dan dapat dimaklumi bahwa diperlukan persiapan yang lebih baik karena mencakup perubahan pola pikir, desain dan infrastruktur sistem internal perusahaan.
IAI benar-benar serius dalam mengupayakan konfergensi penuh IFRS pada tahun 2012. Institusi pendidikan pun dilibatkan. Upaya mencapai konvergensi IFRS secara penuh pada tahun 2012 bukanlah hal yang mudah karena IFRS tidak diam, melainkan terus berkembang, dan kita harus berlari lebih cepat dari "larinya" IFRS.
Manfaat IFRS adalah :
  1. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dikenal secara internasional.
  2. Meningkatkan arus investasi globalmelalui transparansi.
  3. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang Fund Raising melalui pasar modal secara global.
  4. Menciptakan efisiensi penyusunan lapporan keuangan.
Startegi yang dapat digunakan dalam mengadopsi penuh IFRS, yaitu :
  1. Big Bang Strategy, dalam hal ini adopsi dilakukan secara sekaligus tanpa masa transisi. Strategi ini digunakan oleh negara-negara maju dan sebagian kecil negara berkembang, misalnya Afrika Selatan.
  2. Gradual Strategy, adopsi penuh dilakukan secara bertahap, dengan masa transisi. Strategi ini dilakukan oleh negara-negara berkembang.
Proses konvergensi PSAK dengan IFRS akan berdampak terhadap pendidikan, yaitu :
  1. perubahan mind-stream dari rule based kepada principle-based
  2. banyak menggunakan judgement : pemahaman substansi dan prinsip yang diatur , serta integritas
  3. banyak menggunakan fair value accounting
  4. semakin meningkat ketergantungan pada profesi lain, misalnya aktuaris dan penilai.

Nama : Achmad Rizkiansyah
Kelas : 3 EB 05
NPM : 20207015
Tugas : Membuat Resume dari Tulisan
Sumber : Majalah Akuntan Indonesia Edisi No.17/tahun III/ Juni 2009

RESUME TULISAN AKUNTANSI PART.1

KURIKULUM PENDIDIKAN AKUNTAN
HARUS MEMBUMI

Oleh : Djoko Susanto, Anggota DPN IAI

Salah satu masalah utama terkait dengan persiapan implementasi International Financial Reporting Standard (IFRS) atau standar laporan keuangan internasional di lingkungan perguruan tinggi adalah belum adanya kurikulum baku dan terbatasnya buku-buku teks. Menurut anggota Dewan Pengurus Nasional (DPN) Djoko Susanto, seharusnya kurikulum dan buku-buku sudah disesuaikan dengan IFRS dan bersifat membumi, sesuai dengan kondisi Indonesia.

Para dosen di setiap perguruan tinggi masih menyusun standar yang diharapkan dari penyusunan standar dapat diaplikasikan ke lapangan. Masalah yang lebih penting adalah di pendidikan. Kurikulum pendidikan, silabus dan mata kuliah akuntansi kita masih mengacu pada US GAAP dan buku teks pun dari Amerika. Buku teks yang mengacu IFRS masih kurang / bahkan tidak ada. IAI bekinisiatif bekerja sama dengan Australia untuk mecoba menyusun materi IFRS sebagai bahan pengajaran di kelas. Diharapkan bersamaan dengan implementasi IFRS di tahun 2012 materi tersebut siap dipakai di kelas.

Letak kesulitan dalam implementasi kurikulum dan dosen yang bebasis IFRS adalah banyak terkaitnya faktor biaya. Untuk adopsi butuh biaya banyak. Apalagi dalam persiapan materi kuliah, semua buku teks banyak terkait dengan biaya.

Berikut adalah saran terhadap percepatan terhadap dunia pendidikan di Indonesia, Perlu adanya sosialisasi intensif menuju standar global. Pada 2010, banyak standar harus diterjemahkan. Pada tahun 2011, sudah mulai sosialisasi ke user sebelum 2012 bisa dimplementasikan. Selain itu adanya program pendidikan, Sosialisasi. Ini bukan sesuatu yang baru tetapi untuk pendidikan kita perlu mencontoh yang bukan AS. Sekarang kalau buat kurikulum sebisa mungkin membumi. Untuk materi, Indonesia bekerja sama dengan Australia dan Malaysia.



Nama : Achmad Rizkiansyah
Kelas : 3 EB 05
NPM : 20207015
Tugas : Membuat RESUME dari tulisan
Sumber : Majalah Akuntan Indonesia Edisi No. 17/ Tahun III/ Juni 2009


Minggu, 18 April 2010

RISET AKUNTANSI ABSTRAKSI 2

PENGARUH NET PROFIT MARGIN (NPM)
TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT BANK MEGA, TBK.


ABSTRAK
NURESYA MELIYANTI
PENGARUH NET PROFIT MARGIN (NPM) TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT. BANK MEGA, TBK
Kata Kunci : Net Profit Margin, Return On Asset


Salah satu masalah yang dihadapi perbankan di Indonesia sekarang ini adalah masalah kesehatan bank. Karena semua kegiatan terutama kegiatan keuangan selalu membutuhkan jasa keuangan.
Salah satu rasio keuangan yang digunakan sebagai tolak ukur kinerja suatu bank yaitu rasio rentbilitas. Perhitungan pada faktor rentabilitas dapat mengukur efisiensi dan profitabilitas bank yang bersangkutan.
Maka dari itu penulis melakukan penelitian ini dengan tujuan ingin mengetahui pengaruh dan besar korelasi yang terjadi antara Net Profit Margin terhadap profitabilitas bank, yang dalam hal ini adalah Return On Asset yaitu salah satu rasio dimana laba sebelum pajak terhadap total aktiva suatu bank.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya korelasi antara Net Profit Margin dan Return On Asset dengan korelasi sebesar 0.433 yang menunjukkan bahwa korelasi antara keduanya adalah positif.


Nama : Achmad Rizkiansyah
Kelas : 3 EB 05
NPM : 20207015
Tugas : Membuat Abstrak dari Jurnal / Penelitian(RISET AKUNTANSI)

RISET AKUNTANSI ABSTRAKSI 1

PERAN MOTIVASI KERJA DAN KEPUASAN KERJA
DALAM MENURUNKAN STRES KERJA


ABSTRAKSI


SULASTRI
SANGSANG SANGABAKTI
PERAN MOTIVASI KERJA DAN KEPUASAN KERJA DALAM MENURUNKAN STRES KERJA
Kata Kunci : Motivasi, Kepuasan dan Stres Kerja


Motivasi merupakan proses mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang diinginkan. Umumnya manusia bekerja untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan hidupnya.
Tingginya persaingan dunia bisnis sekarang ini menyebabkan perusahaan mempunyai tuntutan yang besar terhadap karyawannya. Untuk itu agar karyawan dapat mengimbangi tuntutan perusahaan tempatnya bekerja maka dibutuhkan adanya motivasi dalam diri karyawan tersebut. tuntutan pekerjaan yang begitu banyak, kadangkala membuat karyawan bisa mengalami stres kerja.
Dengan demikian penulis melakukan penelitian dengan tujuan memperoleh bukti apakah motivasi kerja dan kepuasan kerja memiliki peranan dalam menurunkan stres kerja. Penelitian ini menggunakan metode regresi ganda yang dimana setiap variabel diuji satu sama lain. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tidak terdapat peranan yang signifikan dari motivasi kerja dan kepuasan kerja dalam menurunkan stres kerja.


Nama : Achmad Rizkiansyah
NPM : 20207015
Kelas : 3 EB 05
Tugas : Membuat Abstrak dari Jurnal / Penelitian(RISET AKUNTANSI)

Selasa, 06 April 2010

tugas riset akuntansi

Nama : Achmad Rizkiansyah

Kelas : 3 EB 05

NPM : 20 20 70 15

Tugas : Riset Akuntansi

  1. Hasil penelitian akuntansi yang saya sukai dari bacaan ilmiah, yaitu :

Judul : Analisis Keterkaitan Harga Antar Kelompok

Komoditas Pembentuk Inflasi di Sumatra Barat.

Penulis : Gaffari Ramadhan

Waktu Penerbitan : Januari 2009

Nama Buletin : Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan

Volume : 11

Nomor Majalah : 3

  1. Komponen (Urutan) yang ada dalam bacaan tersebut adalah :

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

I.2. Karakteristik Inflasi di Sumatra Barat

II. METODOLOGI

II.1. Teknik Estimasi

II.1.1. Pengujian Stationeritas

II.1.2. Pengujian Kointegrasi

II.1.3. Model Vector Autoregression (VAR) dan Vector Error Correction Model (VECM)

II.2. Data

III. Hasil dan Analisis

III.1 Kelompok Bahan Makanan (BAMA)

III.1.1. Impluse Response Function Kelompok Bahan Makanan

III.1.2. Variance Decomposition Harga Kelompok Bahan Makanan

III.2. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

III.2.1. Impluse Response Function Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau

III.2.2. Variance Decomposition Harga Kelompok Makanan, Minuman, Rokok, dan Tembakau

III.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

III.3.1. Impluse Response Function Harga Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

III.3.2. Variance Decomposition Harga Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

III.4. Kelompok Sandang

III.4.1. Impluse Response Function Harga Kelompok Sandang

III.4.2. Variance Decomposition Harga Kelompok Sandang

III.5. Kelompok Kesehatan

III.5.1. Impluse Response Function Harga Kelompok Kesehatan

III.5.2. Variance Decomposition Harga Kelompok Kesehatan

III.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

III.6.1. Impluse Response Function Harga Kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

III.6.2. Variance Decomposition Harga Kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga

III.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

III.7.1. Impluse Response Function Harga Kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

III.7.2. Variance Decomposition Harga Kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan

IV. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

IV.1. Kesimpulan

IV.2. Implikasi Kebijakan

  1. Penelitian yang saya pilih mmerupakan Basic Research karena penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kondisi empiris pergerakan harga dan inflasi anatr komoditi satu dengan yang lainnya..